Salam UI, Dakwah & Teknologi AI

Beberapa pekan yang lalu, saya mendapatkan undangan untuk hadir di suatu forum yang diselenggarakan oleh Lembaga Dakwah Kampus Nasional (LDKN) di Indonesia yaitu Salam UI. Sebagai seorang yang memiliki pengalaman menjadi praktisi di bidang teknologi AI, biasanya, saya lebih sering menerima undangan untuk jadi pembicara/narasumber di forumnya mahasiswa. Mulai dari mahasiswa Ilmu Komputer, MIPA hingga Teknik. Sesekali diundang untuk menjadi pembicara di depan kalangan eksekutif perusahaan di Indonesia. Topik-topik yang biasanya dibicarakan seputar penjelasan apa itu teknologi AI, perkembangannya hari ini, hingga bagaimana ia dimanfaatkan untuk kebutuhan bisnis. Namun, undangan yang saya terima dari lembaga yang satu ini agak berbeda, karena saya diminta untuk berbicara tentang teknologi AI dan lebih jauh bagaimana kaitannya dengan aktivitas dakwah.

Logo Salam UI

Sebetulnya, lingkungan dakwah kampus itu bukan hal yang baru bagi saya. Waktu masih berstatus mahasiswa S1 pun saya juga terlibat aktif di beberapa organisasi dakwah. Mulai dari ngurusin pelaksanaan event, mengatur strategi kaderisasi, hingga diamanahkan beberapa posisi-posisi strategis selama masih aktif di kepengurusan. Dan sebetulnya saya pun juga pernah menjadi bagian dari Salam UI itu sendiri hehe. Mungkin, karena latar belakang ini juga yang jadi alasan mereka meminta saya untuk mau berbagi pandangan dan pengalaman sebagai seorang (yang punya pengalaman) profesional, lebih khusus di bidang teknologi AI, dan meminta saya untuk juga berbicara tentang dakwah agar diskusi akan semakin relevan dengan audience. Tema yang dimintapun jelas, lugas, tanpa basa-basi: AI dan Dakwah.

Setelah membaca TOR yang diberikan panitia, tanpa berpikir panjang, saya langsung menyanggupi undangan tersebut. Saya memang memegang prinsip, jikalau ada yang meminta saya untuk berbagi pengalaman, selama waktu dan topiknya sesuai dengan kapasitas, maka saya akan berusaha untuk tidak menolak. Sekalipun tidak dibayar. Hitung-hitung sebagai bentuk kontribusi kecil saya untuk tanah air walau sedang berada di perantauan. Namun, khusus untuk undangan kali ini saya menyanggupinya bukan tanpa syarat hehe. Di undangan tersebut, saya meminta panitia untuk menyesuaikan poin-poin materi. TOR meminta saya untuk menjelaskan implikasi etis dari teknologi AI, namun saya meminta agar juga diberikan kesempatan untuk memaparkan implikasi filosofis yang saya pikir juga tak kalah penting untuk didiskusikan.

Belakangan ini, saya memang terbilang cukup aktif memperluas bacaan saya terkait teknologi AI. Biasanya, saya lebih banyak berkutat di perkara-perkara yang sangat praktis. Mulai dari menjalankan rutinitas programming, mempelajari mekanisme kerja suatu algoritma, hingga meninjau aplikasi ril teknologi ini di industri. Termasuk sesekali, walaupun tidak begitu intensif, coba mengikuti perbincangan mengenai isu-isu etis dari teknologi AI mulai dari isu privasi data, fairness, transparansi, akuntabilitas hingga konflik moral. Namun saat ini, lebih jauh saya juga turut larut di beberapa kajian yang membahas terkait filsafat sains dan sejarah perkembangannya yang berujung pada penelusuran lebih jauh saya terhadap isu-isu filosofis dari teknologi AI yang tampak sangat penting namun sepi dari perbincangan.

Maqashid & Maslahah

Bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *